Hati-hati perdukunan dan kemusyrikan dengan tampang Islami!

Seperti bangkai yang diberi tepung renyah lalu digoreng atau kotoran ayam yang dibungkus dengan plastik yang cantik berkilau, dua hal inilah yang bisa menggambarkan betapa hinanya praktik perdukunan dan kemusyrikan berkedok agama yang kian marak belakangan ini.

Yang menjadi korban fenomena ini adalah mereka yang masih awam dalam pengetahuan agama atau pun mereka yang terjebak sikap fanatik terhadap tokoh atau golongan tertentu. Hal yang sungguh  mengenaskan adalah fenomena perdukunan ini didukung dan disponsori oleh majalah-majalah bahkan sampai menjadi program unggulan televisi. Pemakaian atribut-atribut islami, penggunaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hal yang semacamnya menjadi alat untuk mengkamuflasekan kemusyrikan dan perdukunan yang dilakukan oleh para (maaf) dukun yang mengaku ustad atau kiyai, sehingga Baca lebih lanjut

Lagi Galau? Ini Cara Mengatasinya

Galau menjadi sebuah kata yang sangat populer dewasa ini. Galau sendiri menggambarkan sebuah kondisi seseorang dimana sedang ditimpa rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, galau diartikan sebagai “kacau tidak keruan (berpikir).”  Dengan semakin populernya situs jejaring sosial, malah dijadikan banyak orang sebagai tempat pelampiasan galaunya. Namun benarkah dengan cara seperti itu, kondisi tersebut akan teratasi?
Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita mengetahui bagaimana cara terbaik untuk mengatasi saat kondisi “Galau”.  Berikut ini langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk mengatasi galau :
1. Berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
 فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
 “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.“ (QS: al Insyirah: 7-8). Dengan berserah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, kita akan melakukan apapun dengan ketenangan dan kenyamanan bathin karena ada jaminan Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa memelihara ciptaan-Nya.
2. Bersabar karena Allah Subhanahu Wata’ala.
 Bersabar disini bukan berarti menunggu dan pasrah begitu saja, sabar dalam artian menerima takdir Allah Subhanahu Wata’ala sebagai yang terbaik dan senantiasa mempersiapkan diri untuk melakukan yang terbaik pula. Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, supaya kamu beruntung.”
3. Berteguh hati dan fikiran.
Flash-back terkait makna ‘galau’ jika dipahami keresahan hati, maka kita sebagai umat Islam harus memiliki keteguhan hati dan fikiran bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mengatur semesta alam ini. Jadi, tidak ada lagi kebimbangan mau jadi apa dan kemana masa depan kita, yang penting lakukanlah apa yang terbaik yang dapat dilakukan. Berikut Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
 وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
 “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah Subhanahu Wata’ala) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105)
4. Sedih dilarang Allah Subhanahu Wata’ala
Sebagai umat Islam, kita harus merasa beruntung dalam berbagai hal kehidupan. Karena Islam telah merangkum aturan hidup manusia hingga akhir zaman, dan tidak sepatutnya seorang hamba Allah Subhanahu Wata’ala bersedih kecuali sedih karena dosanya. Allah Subhanahu Wata’ala memotivasi kita dalam firman-Nya; لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala bersama kami.” (QS. At Taubah: 40)
5. Menghadap Allah Subhanahu Wata’ala.
 Adukanlah semua permasalahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala karena pasti Allah Subhanahu Wata’ala mempunyai semua solusinya. Sangat wajar jika kita menemui masalah dalam menjalani kehidupan ini, namun jangan pernah mundur atau takluk pada permaslahan itu. Allah Subhanahu Wata’ala sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari: يَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al Fatihah 5).
 
6. DOA DOA

Saat merasa Sumpek Baca:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Ketika datang rasa takut, membaca:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيل
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Qs. Ali Imran : 173).

Jika sedang merasa sedih, ucapkan:
وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَاد
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”

(sumber:Hidayatullah.com – Lima obat penawat galau / ayat-ayat anti galau)